Kolaborasi ITS-PSU Wujudkan Seminar Bersama

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali menggelar seminar internasional. Seminar yang berlangsung di ruang sidang utama Gedung Rektorat ITS ini diselenggarakan oleh Jurusan Statistika dengan menggandeng mitra dari Prince of Songkla University (PSU) Thailand. Selama dua hari sejak sejak Senin (16/10), dua institusi tersebut akan membahas terkait ilmu statistika terapan.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Prof Dr Basuki Widodo M Sc. Dalam sambutannya, Basuki sempat mengucapkan pesan bela sungkawanya atas meninggalnya Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej.

 

Seminar internasional kali ini melibatkan 12 orang pembicara utama serta dua orang pembicara tamu. Enam pembicara yang mendapat giliran presentasi pada hari pertama adalah Dr Yuliani Setia Dewi M Sc, Dr Ani Budi Astuti M Sc, dan Hidayatul Khusna yang berasal dari ITS. Sementara dari PSU diwakili oleh Dr Noodchanath Kongchouy, Dr Apiradee Lim dari PSU, dan Burachat Sripitak dari PSU.

 

Dr Heri Kuswanto, ketua pelaksana seminar mengaku pola penyelenggaraan semacam ini memang jarang dilakukan. Padahal ada banyak keuntungan yang dapat diperoleh, misalnya sebagai sarana pertukaran informasi terhadap tema penelitian yang sedang dikerjakan oleh masing-masing perguruan tinggi. "Setahun lalu kami diundang untuk mengadakan seminar serupa di Thailand, kini giliran kami yang mengundang mereka untuk menggelar seminar serupa di ITS," ujarnya.


Keuntungan lainnya menurut Heri adalah adanya upaya dalam membangun jaringan ke arah kerjasama atau pun kolaborasi dalam penelitian. "Kebetulan saat ini salah satu dosen ITS bersama dosen PSU sedang mengadakan penelitian bersama terkait dengan klasifikasi penyakit kanker," tutur Heri.

Heri menambahkan bahwa ITS cenderung memiliki kepakaran dalam bidang statsitika, sedangkan PSU unggul dan memiliki ahli di bidang kedokteran yang terkait epidemiologi. "Apabila dua keunggulan tersebut dapat disinergikan, tentunya akan memberikan manfaat yang luar biasa," jelasnya.

Selain itu, seminar ini juga melibatkan para mahasiswa pascasarjana baik dari ITS maupun PSU. Harapannya, pengaruh atmosfer internasional nantinya akan berefek pada lingkungan akademik mahasiswa. "Kedepannya, pola semacam ini diharapkan akan menjadi kontribusi nyata demi menuju perguruan tinggi berkelas internasional atau word class university," pungkas Heri
Sementara dari dalam negeri, seminar ini juga melibatkan tiga perguruan tinggi lain sebagai reviewer. "Ada tiga perguruan tinggi yang kami libatkan, yakni ITB, IPB, dan UB," katanya.

Heri berharap agar joint seminar seperti ini selanjutnya akan ditindaklanjuti oleh institut dalam menjalin kerjasama akademik yang lebih luas. Seperti tukar menukar dosen atau tenaga pengajar dan penyelenggaraan pendidikan gelar ganda (double degree). (qi/guh)