Indonesia Targetkan Kemandirian Energi

Tingginya jumlah import Bahan Bakar Minyak (BBM) masih menjadi tugas rumah tersendiri bagi pemerintah. Pasalnya, dari konsumsi harian yang menembus angka 1,6 juta barrel per hari, negara hanya mampu mencover separuhnya, 800 ribu barel saja. Melalui talkshow yang dibawakan oleh Ir Dwi Soetjipto MM, Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (persero), Dwi kupas tuntas peran Pertamina dalam mewujudkan kemandirian energi di Indonesia, Sabtu (29/10).

Tingginya jumlah import Bahan Bakar Minyak (BBM) masih menjadi tugas rumah tersendiri bagi pemerintah. Pasalnya, dari konsumsi harian yang menembus angka 1,6 juta barrel per hari, negara hanya mampu mencover separuhnya, 800 ribu barel saja. Melalui talkshow yang dibawakan oleh Ir Dwi Soetjipto MM, Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (persero), Dwi kupas tuntas peran Pertamina dalam mewujudkan kemandirian energi di Indonesia, Sabtu (29/10).

Bagi Dwi, definisi mandiri yaitu mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain. Meskipun sejatinya tidak bisa hidup sendiri, ketergantungan tersebut harus bisa dikurangi seminim mungkin. 

Terdapat beberapa pilar yang menurut Dwi menjadi kunci terbangunnya kedaulatan energi Nasional. Diantaranya dengan mengakselerasi bisnis upstream. "Kita harus lebih agresif untuk berkembang ke luar negeri. Targetnya, 70 persen dari demand terpenuhi sendiri," papar Dwi.

Kedua, yaitu melalui efisiensi perusahaan. "Dengan total saving yang didapat, sebenarnya dudah bisa menutupi kebutuhan perekonomian di daerah terpencil dan terjauh," sambungnya. Keempat, membangun Infrastruktur energi untuk menghadapi tantangan energi kedepannya.

Dan pilar terkahir terkait masalah keuangan. Sejauh ini, Dwi menargetkan untuk tidak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam mewujudkan kemandirian energi.

"Kita targetkan untuk kemajuan energi di kilang, dapat selesai dengan upstream 70 hingga 80 persen di tahun 2025," pungkas Dwi.

"Selama 25 tahun terakhir ini, Indonesia tidak pernah membangun kilang baru. Hal itu disebabkan oleh penggembosan temuan," ujar alumni Jurusan Teknik Kimia ITS tersebut. Ditambah lagi, beredarnya isu bahwa membangun kilang baru, tidak ekonomis. 

Menurutnya, isu tersebut berhembus dari beberapa golongan yang ingin menggagalkan segala hal yang dapat memperkuat Indonesia. "Kita sebut mereka mafia, tidak harus jualan, namun cukup menghembuskan isu-isu seperti ini," terangnya. (mei/oti)