Mahasiswa ITS Ciptakan Bahan Pengikat Limbah Racun

Tak banyak diantara kita yang dapat mengira bahwa lumpur ternyata dapat dimanfaatkan menjadi sebuah prodak inovasi. Biasanya, benda tersebut identik dengan makna konotasi seperti bau tidak sedap dan berwarna gelap. Namun Yulinar Dwi Nur Azizah, Mahasiswa Departemen Kimia mempunyai pandangan lain. Ditanggannya, lumpur justru berhasil ia olah menjadi sebuah media pengikat racun (Bioabsorben) untuk limbah industri batrai.

Mahasiswa yang akrab disapa Yulinar ini mengatakan bahwa lumpur yang ia gunakan merupakan lumpur limbah hasil industri penyamakan kulit. Ternyata, ia mengaku bahwa ide untuk memakai limbah lumpur hasil industri penyamakan kulit tersebut muncul saat ia mengingat kampung halamannya, Mojokerto.

"Di sekitaran rumah saya banyak industri penyamakan kulit dan menghasilkan limbah lumpur. Sayang kurang terolah dan termanfaatkan, padahal lumpur tersebut memiliki potensi," ucap Yulinar saat ditemui oleh ITS Online. Setelah diteliti, lanjutnya, lumpur tersebut merupakan limbah organik yang memilki gugus fungsi dan mampu mengikat logam berat seperti Kobalt, Nikel, Kadmiun dan Seng.

"Logam berat ini biasanya banyak terkadung dalam limbah industri batrai. Mereka bersifat merusak lingkungan. Sehingga perlu ada sebuah langkah solutif untuk menanggulanginya. Karena itu kita mencoba membuat penelitian dengan ini," jelas Alumnus SAMN 1 Puri ini.

Tak disangka, hasil uji coba skala lab yang dilakukan oleh Yulinar mendapat hasil yang cukup memuaskan. Dari skala efektivitas 100 persen, olahan lumpurnya ternyata mampu mengikat limbah dengan nilai diatas 90 persen. Sehingga tak heran, penelitiannya ini pun berhasil menyabet juara tiga dalam lomba Cipta Guna Limbah Nusantara di Universitas Sriwijaya tahun 2016.

Berawal dari pengalaman tersebut, Yulinar mengaku ketagihan dengan dunia tulis-menulis karya ilmiah. Bahkan ia mengaku telah memutuskan untuk menekuni bidang ini. Saat ini, ia juga memiliki rencana untuk mengikuti lomba yang diadakan oleh PT Pertamina. Perempuan kelahiran  30 Juli 1996 pun mengaku sempat menyesal lantaran baru menemukan dunia penelitian di semester lima. (io8/ao)