Menyelisik Kehidupan Muslim di Jerman

Perbincangan mengenai kehidupan muslim di negara barat menjadi hal yang cukup menarik untuk dibahas. Salah satunya di Jerman yang saat ini menjadi salah satu negara dengan jumlah muslim yang cukup besar di Eropa. Sempat menempuh pendidikan Doktor di Jerman, Dr rer nat Bintoro Anang Subagyo SSi MSi membagikan kisahnya tentang bagaimana kehidupan muslim di Jerman kala itu.

Pria yang mengenyam pendidikan S3 di Carl Von Ossietzky Universitat Oldenburg  ini mengatakan bahwa jumlah penduduk di jemarn kala itu sekitar 80 juta jiwa. "Jika diitung-itung, jumlah kaum muslim di sana sekitar 4-6 juta, atau sekitar 5 persen dari populasi seluruh penduduk Jerman," ucap Bintoro, Dosen Departemen Fisika ITS tersebut.

Baginya, jumlah tersebut memang cukup sedikit. Namun berdasarkan pengalaman, Bintoro mengaku bahwa muslim di sana serasa mayoritas meski berjumlah minim.

Bintoro menjelaskan, kebanyakan penduduk Jerman jarang meramaikan tempat keagamaan, sekalipun ketika perayaan hari-hari besar. Hal itu sangat berbeda dengan kaum muslim di sana. Dengan keterbatasan masjid, jumlah jamaah muslim selalu saja membeludak hingga ke luar area masjid ketika waktu salat. "Bahkan pernah dilakukan tiga kloter salat berjamaah," kisah Bintoro.

Lebih lanjut, Kepala Laboratorium Fisika Teori tersebut menjelaskan bahwa terdapat tiga tipe muslim yang ada di Jerman. Pertama adalah populasi asli muslim tradisional Jerman. Sedangkan yang kedua adalah imigran yang kebanyakan dari Turki dan terakhir berasal dari mualaf termasuk pernikahan beda agama.

Ia menambahkan, perkemabngan Islam di Jerman juga cukup pesat. Hal itu ditandai dengan mulai masuknya Islam dalam pelajaran di sekolah-sekolah umum, bahkan hingga di level universitas. "Sama halnya di Indonesia, di Jerman juga terdapat organisasi-organisasi Islam. Salah satunya Turkisch-Islamische Union der Anstalt fur Religion e.V. (DITIB), organisasi Islam yang didukung langsung oleh pemerintah Jerman, Ucap Bintoro.

Ketika ditanya mengenai budaya toleransi yang ada di sana, Bintoro mengungkapkan bahwa hal itu tergantung individu masing-masing. Pernah suatu kisah, Bintoro memiliki jadwal kelas yang berbenturan dengan jadwal Salat Jumat. "Saat saya meminta izin, guru saya menjawab, bilang ke ustadmu minta perubahan jadwal salat," ucapnya menirukan jawaban sang guru.

Tak pelak, ia pun hanya mengiyakan saja. Namun siapa sangka hal tersebut justru menjadi pembuka pintu toleransi. Ketika minggu berikutnya datang, Bintoro mengaku bahwa tidak ada lagi kelas saat jadwal Salat Jumat," cerita Bintoro. (id/ao)